Deiyai[SINAR BEMO] — Ketegangan kembali pecah di wilayah Kapiraya pada 11 Februari 2026. Sengketa tapal batas antara Kabupaten Mimika dan Kabupaten Deiyai yang berlarut-larut kini berada di titik kritis.
Anggota DPR Papua Tengah Donatus Mote, S. IP, MM mendesak Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Deiyai, dan Pemerintah Kabupaten Mimika untuk segera mengambil langkah konkret sebelum jatuh korban jiwa.
Terdapat tiga akar masalah utama yang memicu konflik di Kapiraya:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
1. Ketidakpastian Batas Administrasi: Belum adanya ketegasan garis batas antar wilayah pemerintahan.
2. Ketidakpastian Batas Adat: Belum adanya sinkronisasi batas wilayah berdasarkan hukum adat setempat.
3. Potensi Sumber Daya Alam: Adanya aktivitas pendulangan emas di wilayah perbatasan yang meningkatkan tensi persaingan.
”Saya berharap Penjabat Gubernur Papua Tengah, Bupati Deiyai, dan Bupati Mimika segera mengambil langkah strategis. Tim yang sudah dibentuk oleh Pemerintah Provinsi harus bergerak cepat. Jangan tunggu sampai ada darah yang tumpah baru kita sibuk mencari solusi,” tegasnya.
Upaya damai harus menjadi prioritas utama. Sebelum melakukan verifikasi fisik batas wilayah, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah menghentikan gesekan di lapangan demi menjamin keamanan warga sipil di Kapiraya.






