SINAR BEMO – Setelah bertahun-tahun mama-mama Papua menggelar dagangan di pinggir jalan, di depan toko, kios, bahkan di bahu jalan karena tidak memiliki pasar yang layak, harapan baru akhirnya mulai terwujud. Pemerintah Kabupaten Deiyai kini resmi membangun Pasar Mama-Mama Papua di Waghete sebagai pusat perdagangan rakyat yang diharapkan menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus mengembalikan fungsi pasar tradisional di ibu kota kabupaten.
Pembangunan pasar tersebut telah dimulai sekitar dua minggu lalu. Proses pekerjaan fisik terus berjalan dan ditargetkan selesai dalam waktu kurang lebih empat bulan. Apabila seluruh tahapan pembangunan berlangsung sesuai rencana, pasar baru itu diharapkan dapat diresmikan pada Desember 2026 dan segera digunakan oleh masyarakat.
Kehadiran pasar ini menjadi kabar yang telah lama dinantikan, terutama oleh mama-mama Papua yang setiap hari menggantungkan penghidupan dari hasil kebun. Selama bertahun-tahun mereka menjual petatas, ubi, sayur-mayur, pinang, buah-buahan, serta berbagai hasil bumi lainnya di tempat yang seadanya karena tidak tersedia lokasi perdagangan yang representatif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap pagi, sebelum matahari menyinari perbukitan Deiyai, mama-mama telah memikul noken berisi hasil panen dari kampung. Mereka berjalan jauh menuju Waghete dengan satu harapan sederhana, yaitu agar dagangan mereka laku dan dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Namun perjuangan itu harus dijalani di tengah keterbatasan fasilitas, panas matahari, hujan, hingga risiko keselamatan akibat berjualan di tepi jalan.
Pemerintah Kabupaten Deiyai menilai kondisi tersebut tidak boleh terus berlangsung. Karena itu, pembangunan Pasar Mama-Mama Papua menjadi salah satu langkah strategis untuk menyediakan ruang usaha yang lebih layak, aman, bersih, dan tertata bagi para pedagang tradisional.
Pembangunan pasar ini merupakan kelanjutan dari proses panjang yang telah dimulai sejak tahun sebelumnya. Pemerintah Kabupaten Deiyai lebih dahulu menyelesaikan seluruh proses pembebasan lahan dengan melakukan pembayaran kepada pemilik lokasi sebesar Rp4 miliar melalui mekanisme transfer pada Senin, 16 Juni 2025.
Pembayaran tersebut dilakukan secara terbuka dan disaksikan masyarakat melalui penyerahan simbolis di lapangan terbuka. Langkah itu diambil sebagai bentuk transparansi pemerintah sekaligus untuk menghindari berbagai polemik mengenai kepemilikan lahan yang berpotensi muncul di kemudian hari.
Dengan tuntasnya proses pembayaran lahan, pemerintah kemudian melanjutkan tahapan perencanaan hingga akhirnya pembangunan fisik dapat dimulai pada tahun 2026.
Lokasi Pasar Mama-Mama Papua dibangun tidak jauh dari kawasan pasar lama Waghete. Dahulu, lokasi tersebut menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat Deiyai. Namun seiring perkembangan waktu, kawasan pasar lama berubah menjadi permukiman serta pertokoan sehingga fungsi pasar tradisional perlahan menghilang.
Akibatnya, aktivitas perdagangan rakyat berpindah ke berbagai titik di pinggir jalan. Kondisi tersebut berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi salah satu persoalan yang terus dikeluhkan masyarakat.
Selain mengurangi kenyamanan pedagang dan pembeli, aktivitas jual beli di bahu jalan juga berdampak terhadap ketertiban kota. Arus kendaraan sering terganggu, ruang pejalan kaki menjadi terbatas, sementara kebersihan lingkungan menjadi tantangan tersendiri.
Keluhan inilah yang kemudian menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Deiyai. Melalui pembangunan pasar baru, pemerintah berharap seluruh aktivitas perdagangan rakyat dapat dipusatkan kembali pada satu kawasan yang lebih tertata sehingga wajah Kota Waghete menjadi lebih rapi, nyaman, dan aman.
Pasar Mama-Mama Papua nantinya diproyeksikan bukan hanya sebagai tempat transaksi jual beli, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. Kehadirannya diharapkan mampu meningkatkan pendapatan pedagang kecil, memperluas pemasaran hasil pertanian, sekaligus memperkuat ekonomi berbasis potensi kampung.
Bagi masyarakat Deiyai, pasar bukan sekadar bangunan yang terdiri atas kios dan los. Pasar adalah ruang kehidupan. Di sanalah hasil kerja keras petani bertemu dengan kebutuhan masyarakat. Di sanalah roda ekonomi berputar setiap hari, dari tangan petani kepada pedagang, lalu sampai kepada konsumen.
Pemerintah juga berharap pembangunan pasar baru akan memberikan dampak positif terhadap penataan kota secara keseluruhan. Ketika seluruh pedagang telah menempati lokasi yang disediakan, aktivitas perdagangan di pinggir jalan secara bertahap dapat dipindahkan sehingga kawasan pusat kota menjadi lebih tertib dan nyaman.
Lebih jauh lagi, pembangunan Pasar Mama-Mama Papua menjadi bukti bahwa pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada infrastruktur berskala besar, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat kecil yang selama ini menjadi penggerak utama ekonomi lokal.
Bagi mama-mama Papua, pasar baru itu adalah simbol penghargaan atas kerja keras mereka selama ini. Tempat yang selama puluhan tahun hanya menjadi impian, kini perlahan berdiri menjadi kenyataan.
Apabila seluruh pekerjaan selesai sesuai jadwal, maka Desember 2026 akan menjadi momentum bersejarah bagi Kabupaten Deiyai. Sebuah pasar baru akan dibuka, bukan hanya sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai simbol harapan baru bagi ribuan masyarakat yang selama ini menanti tempat berdagang yang layak.
Pasar Mama-Mama Papua di Waghete diharapkan menjadi rumah baru bagi ekonomi rakyat, tempat di mana hasil bumi Deiyai dipasarkan dengan lebih baik, kesejahteraan masyarakat meningkat, dan pembangunan daerah benar-benar dirasakan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.













Komentar