Anace Yuppy Minta Bupati Mimika Hentikan Rencana Pembangunan Kota Baru di Kapiraya

Sunday, 23 August 2026 - 06:56 WIT

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPRD Kabupaten Deiyai jalur Otsus utusan Distrik Kapiraya, Anace Yuppy, meminta rencana pembangunan kota baru di Kapiraya dihentikan, persoalan tapal batas adat Suku Mee dan Suku Kamoro diselesaikan.

Anggota DPRD Kabupaten Deiyai jalur Otsus utusan Distrik Kapiraya, Anace Yuppy, meminta rencana pembangunan kota baru di Kapiraya dihentikan, persoalan tapal batas adat Suku Mee dan Suku Kamoro diselesaikan.

DEIYAI, SINAR BEMO — Anggota DPRD Kabupaten Deiyai jalur Otsus utusan Distrik Kapiraya, Anace Yuppy, S.Kep., Ns., S.Tr., meminta Bupati Mimika menghentikan rencana pembangunan kota baru di wilayah Kapiraya sebelum persoalan tapal batas adat antara Suku Mee dan Suku Kamoro diselesaikan secara damai.

Permintaan tersebut disampaikan Anace menyusul rencana pembangunan kota baru di Kapiraya yang sebelumnya dibahas dalam seminar pendahuluan di Timika, Jumat (21/8/2026), di Hotel Horison Diana.

Anace menilai rencana pembangunan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila dilaksanakan ketika penyelesaian tapal batas adat antara kedua suku masih dalam proses.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, persoalan antara Suku Mee dan Suku Kamoro semakin mendapat perhatian setelah terjadi penyerangan yang menewaskan Pendeta Neles Peuki serta pembakaran rumah warga di Kampung Yamouwitina dan Mogodagi, Distrik Kapiraya, Kabupaten Deiyai.

“Saya menilai Bupati Mimika tidak ada niat baik untuk menyelesaikan masalah tapal batas adat secara damai,” kata Anace dalam keterangannya.

Sebagai anak asli Kapiraya yang lahir dan besar di wilayah tersebut hingga menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di Kapiraya, Anace menegaskan penolakannya terhadap rencana pembangunan kota baru sebelum persoalan tapal batas adat diselesaikan.

Ia menyampaikan dua sikap utama. Pertama, menolak rencana pembangunan kota baru di Kapiraya sebelum adanya penyelesaian masalah tapal batas adat antara Suku Mee dan Suku Kamoro.

Kedua, meminta Bupati Mimika menghormati seluruh tahapan penyelesaian persoalan tapal batas adat yang saat ini sedang dikerjakan oleh Tim Harmonisasi Provinsi Papua Tengah.

Anace menegaskan bahwa wilayah Kapiraya bukan merupakan tanah kosong. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki masyarakat adat yang telah mendiami wilayah tersebut sebelum kehadiran gereja maupun pemerintahan.

“Tanah Kapiraya bukan tanah kosong. Tanah Kapiraya ada penghuninya, yakni Suku Mee dan Kamoro sebelum gereja dan pemerintah hadir,” tegasnya.

Karena itu, ia meminta pemerintah menghormati hak dan keberadaan masyarakat adat serta tidak mengambil kebijakan yang berpotensi memperkeruh hubungan antara Suku Mee dan Suku Kamoro.

“Saya minta Pemerintah Kabupaten Mimika jangan pernah menciptakan masalah baru lagi antara Suku Mee dan Kamoro dengan rencana pembangunan kota baru di Kapiraya sebelum ada penyelesaian tapal batas adat,” ujarnya.

Anace juga mengajak seluruh pihak menghormati proses yang sedang dilakukan Tim Harmonisasi Provinsi Papua Tengah agar persoalan tapal batas adat dapat diselesaikan melalui mekanisme yang damai dan melibatkan masyarakat adat.

Ia berharap pemerintah lebih mengedepankan penyelesaian konflik dan perlindungan masyarakat adat sebelum menjalankan rencana pembangunan di wilayah yang masih memiliki persoalan batas adat.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Mama-Mama Papua Deiyai Segera Miliki Pasar Baru Setelah Puluhan Tahun Berjualan di Pinggir Jalan
Musim Kemarau Berlanjut, Masyarakat Diimbau Jaga Kebersihan Muara Kali Oneibo Deiyai
Handphone Bikin Anak Kecanduan, Belajar Pun Cepat Bosan
Peringati Hari Bumi, Bupati Deiyai Instruksikan Tertib Kerja dan Penguatan Kebersihan Lingkungan
Tim Harmonisasi Deiyai Tampung Aspirasi Masyarakat Mee di Kapiraya
Tim Harmonisasi Deiyai dan Dogiyai Desak Kolaborasi Mimika untuk Selesaikan Konflik Mee–Kamoro di Kapiraya
Suara dari Mogodagi: Masyarakat Kapiraya Desak Penegasan Batas Adat dan Keadilan Hukum
Akses Jalan Terhambat, Masyarakat Kapiraya Desak Percepatan Pembangunan Jalur Darat demi Pelayanan Publik

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sunday, 23 August 2026 - 06:56 WIT

Anace Yuppy Minta Bupati Mimika Hentikan Rencana Pembangunan Kota Baru di Kapiraya

Friday, 7 August 2026 - 00:12 WIT

Mama-Mama Papua Deiyai Segera Miliki Pasar Baru Setelah Puluhan Tahun Berjualan di Pinggir Jalan

Thursday, 6 August 2026 - 14:21 WIT

Musim Kemarau Berlanjut, Masyarakat Diimbau Jaga Kebersihan Muara Kali Oneibo Deiyai

Tuesday, 21 July 2026 - 06:36 WIT

Handphone Bikin Anak Kecanduan, Belajar Pun Cepat Bosan

Wednesday, 22 April 2026 - 11:03 WIT

Peringati Hari Bumi, Bupati Deiyai Instruksikan Tertib Kerja dan Penguatan Kebersihan Lingkungan

Berita Terbaru