SINAR BEMO — Nama Wakeitai yang kini dikenal sebagai Waghete merupakan ibu kota Distrik Tigi, yang kemudian berkembang menjadi ibu kota Kabupaten Deiyai setelah pemekaran pada tahun 2008. Sebelum itu, Waghete adalah bagian dari Kabupaten Paniai dan telah lama dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah sekitar Danau Tigi.
Sejak dahulu, Waghete telah menjadi sentral pasar utama. Masyarakat dari berbagai wilayah seperti Debei, Yupiwo, dan Wagamo datang membawa hasil bumi untuk dijual. Perjalanan menuju pasar bukanlah hal mudah. Banyak masyarakat yang harus berjalan kaki melewati jalan berlumpur, menempuh jarak jauh dengan penuh kelelahan demi menjual hasil kebun dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Perjuangan orang tua pada masa itu sangat luar biasa. Meski lelah dan sering kali hasil jualan tidak habis terjual, semangat mereka tidak pernah padam. Semua dilakukan demi membiayai pendidikan anak-anak mereka. Pada masa sebelum tahun 2008, akses jalan masih sangat terbatas dan belum memadai seperti sekarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah keterbatasan tersebut, aktivitas pasar tetap berjalan. Mama-mama Papua menjual hasil bumi di pinggir jalan, bahkan di depan kios dan toko milik pedagang. Kondisi ini seringkali kurang nyaman karena debu jalan dan lalu lintas kendaraan. Selain itu, keberadaan pedagang di pinggir jalan juga kerap menimbulkan gesekan dengan pemilik toko. Hal ini menunjukkan bahwa hingga kini, kebutuhan akan pasar yang layak masih menjadi perhatian penting.
Peluang Ojek Pangkalan Semakin Terbuka
Sejak Kabupaten Deiyai dimekarkan pada tahun 2008, pembangunan mulai digencarkan, termasuk pembukaan akses jalan ke berbagai kampung. Pada masa kepemimpinan Bupati pertama, Blasius Pakage, hingga pemerintahan berikutnya, pembangunan infrastruktur terus berkembang.
Akses jalan yang semakin baik membawa perubahan besar bagi mobilitas masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat harus berjalan kaki, kini mereka dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Mama-mama nelayan dari Danau Tigi bisa dengan mudah ke pasar menjual ikan, begitu juga petani yang membawa hasil kebun.
Perkembangan ini membuka peluang baru bagi para pemuda, yaitu menjadi tukang ojek pangkalan. Hingga tahun 2026, jumlah pengojek terus meningkat dan mereka tersebar di berbagai jalur utama, seperti:
1. Jalur Atouda, Bomou, Tigi Barat, dan Debei
2. Jalur Yabadimi, Yaba, Waita, dan Wagamo
3. Jalur Egepa, Watiyai, Dagokebo, Edaro, Udaugi hingga Paniai
4. Jalur Waghete II, Ikiyauwo, Okomo, Kibitamo, Gakokebo, Puyai, Puduu hingga Dogiyai
Para pengojek melayani berbagai kebutuhan transportasi, mulai dari antar-jemput masyarakat kampung ke pasar, hingga mengantar Aparatur Sipil Negara (ASN) ke kantor.
Mengapa Ojek Menjadi Pilihan Menjanjikan?
Peluang usaha ojek di Deiyai tergolong besar karena beberapa faktor utama:
1. Banyak masyarakat belum memiliki kendaraan pribadi
2. Jarak antara kampung dan pusat kota cukup jauh
3. Mobilitas masyarakat semakin meningkat
4. Ojek lebih cepat dibandingkan kendaraan umum dalam kondisi tertentu
Dalam praktiknya, terdapat beberapa tipe pengojek:
1. Pengojek musiman (karena kebutuhan mendesak)
2. Pengojek ikut-ikutan tanpa keseriusan
3. Pengojek profesional yang menjadikannya sebagai pekerjaan utama
Kelompok terakhir inilah yang umumnya merasakan manfaat ekonomi secara nyata.
Kesaksian Pengojek Sukses
Dari hasil pengamatan dan percakapan langsung, terdapat banyak kisah sukses pengojek di Deiyai. Salah seorang pengojek menyampaikan:
“Di Deiyai ini, kalau ojek setiap hari pasti ada uang. Saya bisa dapat Rp300.000 sampai Rp500.000 per hari, tergantung penumpang. Dalam sebulan bisa Rp4 juta sampai Rp5 juta. Bahkan dalam beberapa bulan bisa mencapai Rp30 juta. Belum tentu pegawai kantor bisa dapat sebanyak itu.”
Pengojek lainnya juga berbagi pengalaman:
“Dari hasil ojek, saya sudah membiayai tiga anak sekolah, membangun rumah, dan membeli ternak babi.”
Kesaksian ini menunjukkan bahwa profesi tukang ojek bukanlah pekerjaan yang bisa dipandang sebelah mata. Dengan keseriusan dan kerja keras, ojek dapat menjadi sumber penghasilan yang stabil bahkan menjanjikan.
Ajakan untuk Generasi Muda
Fenomena ini menjadi pesan penting bagi generasi muda di Deiyai. Memiliki sepeda motor, apalagi dengan harga mahal, seharusnya dimanfaatkan secara produktif. Menjadi tukang ojek bukanlah hal yang memalukan, melainkan peluang usaha yang nyata.
Terlebih lagi, di beberapa jalur tertentu, ojek dari luar daerah telah dibatasi untuk masuk ke kampung-kampung. Hal ini memberikan kesempatan lebih besar bagi masyarakat lokal, khususnya orang Mee, untuk mengembangkan usaha ojek.
Memanfaatkan waktu luang untuk bekerja sebagai pengojek dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan anak, hingga meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Sebaliknya, membiarkan motor hanya digunakan untuk bersantai tanpa menghasilkan pendapatan merupakan kerugian yang tidak disadari.
Kesimpulan
Perkembangan infrastruktur di Kabupaten Deiyai telah membuka peluang ekonomi baru, salah satunya melalui jasa transportasi ojek. Dengan kebutuhan mobilitas masyarakat yang tinggi dan kondisi geografis yang menantang, ojek menjadi solusi transportasi yang efektif sekaligus sumber penghasilan yang menjanjikan.
Dengan kerja keras, disiplin, dan kesadaran untuk memanfaatkan peluang, profesi tukang ojek dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.







Komentar