DEIYAI [SINAR BEMO] – Kampung Deemago yang terletak di wilayah Debei, Kabupaten Deiyai, hingga kini masih tergolong sebagai salah satu kampung paling terisolir. Kampung yang berada di bagian paling belakang ini belum tersentuh pembangunan infrastruktur dasar, khususnya akses jalan Trans Provinsi maupun kabupaten.
Selain keterbatasan akses jalan, Kampung Deemago juga belum menikmati aliran listrik. Kondisi tersebut menjadi harapan panjang masyarakat setempat agar dapat merasakan fasilitas yang sama seperti kampung lain di Kabupaten Deiyai yang telah menikmati akses jalan dan listrik yang memadai.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Kampung Deemago dikenal sebagai kampung yang bersih dan rapi. Kebersihan tersebut bukan karena persiapan lomba, melainkan telah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dijaga oleh masyarakat hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sisi lain, kampung ini memiliki potensi sumber pangan yang melimpah. Berbagai hasil bumi seperti sayur-mayur, buah-buahan, petatas, kacang-kacangan, dan komoditas lainnya tumbuh subur. Namun, potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan akses transportasi yang belum menjangkau wilayah tersebut.
Kepala Kampung Deemago, Daniel Pigome, mengungkapkan bahwa kampungnya masih tergolong tertinggal dibandingkan wilayah lain di Kabupaten Deiyai.
“Kampung Deemago merupakan kampung terbelakang di Kabupaten Deiyai. Sampai sekarang belum ada akses jalan yang layak. Dulu pernah ada jalan, tetapi sekarang sudah rusak dan terputus akibat longsor, dan hingga kini belum ada peningkatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tidak adanya akses jalan membuat masyarakat kesulitan memasarkan hasil bumi mereka ke Waghete yang merupakan pusat aktivitas ekonomi masyarakat Deiyai.
“Akses jalan yang belum tersentuh membuat hasil bumi masyarakat tidak bisa dipasarkan ke Waghete. Saya sangat sedih melihat masyarakat saya hanya berjualan di kampung sendiri tanpa pembeli dari luar. Padahal hampir semua jenis hasil kebun tersedia di sini, sehingga peluang pembeli sangat kecil,” ungkapnya.
Daniel juga menceritakan upayanya membantu warga dengan membeli hasil jualan masyarakat menggunakan uang pribadinya.
“Saya pernah menukar uang di bank sebesar Rp700 ribu dalam pecahan Rp10 ribu, lalu saya membeli jualan masyarakat saya sendiri,” katanya dengan nada sedih.
Menurutnya, apabila akses jalan dapat dibangun kembali, maka roda perekonomian masyarakat akan berkembang pesat dan mampu memenuhi kebutuhan hidup lainnya selain dari hasil pangan.
Ia pun berharap pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, dapat segera memperhatikan kondisi Kampung Deemago. Terlebih, jalan yang diharapkan tersebut merupakan bagian dari jalur Trans Provinsi yang menghubungkan Deiyai dan Dogiyai.
“Kami mohon pemerintah segera melihat kondisi kami. Kami sangat berharap pembangunan jalan dan listrik bisa segera direalisasikan,” tutupnya.













