DEIYAI [SINAR BEMO] – Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Deiyai, Ruben Mote, mengeluarkan pernyataan tegas terkait dinamika perselisihan batas wilayah yang belakangan ini memanas di media sosial. Ia meminta seluruh pihak, terutama kelompok intelektual dan masyarakat dari wilayah Timika, untuk berhenti mengunggah konten atau melakukan aksi-aksi yang dapat memperkeruh suasana.
Ruben menyoroti banyaknya akun media sosial tidak bertanggung jawab yang sengaja “mengobarkan” masalah ini setiap hari. Menurutnya, tindakan tersebut hanya akan mengorbankan rakyat kecil di lapangan. Ia menegaskan bahwa sejarah perbatasan antara Suku Mee dan Suku Kamoro sebenarnya sudah dipahami dengan jelas oleh para tua-tua adat dari kedua belah pihak sejak zaman dulu.
”Kami dari Pemuda Katolik Deiyai dengan tegas meminta agar tidak ada lagi video atau aksi provokatif yang diciptakan. Biarkan proses penyelesaian masalah adat dan batas wilayah ini difasilitasi oleh Pemerintah Daerah agar ditemukan solusi yang tepat dan aman,” ujar Ruben Mote.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain masalah batas, Ruben juga menuntut adanya klarifikasi menyeluruh terkait kerugian yang terjadi akibat konflik ini, baik korban manusia Pdt. Neles Peuki maupun kerusakan aset pemerintah di Distrik Kapiraya. Ia menekankan bahwa Kapiraya memiliki sejarah panjang dengan wilayah Paniai dan Deiyai, sehingga penyelesaiannya harus merujuk pada sejarah adat yang murni.
Ia berharap tim penyelesaian yang diturunkan nantinya benar-benar melibatkan tua-tua adat yang paham sejarah. “Jangan ada pembiaran. Kami minta penegak hukum segera mendata semua korban dan aset yang rusak. Masalah ini besar, dan hanya bisa selesai jika semua pihak menahan diri dari komentar tidak benar di media sosial,” pungkasnya.






