Deiyai [SINAR BEMO] — Ketua Kelompok Khusus Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) Provinsi Papua Tengah, Donatus Mote, S.IP., MM, menegaskan komitmennya menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam proses pembangunan di wilayah tersebut. Penegasan ini disampaikan Donatus Mote dalam kunjungan kerja kedua yang secara khusus difokuskan pada sektor pendidikan.
Menurut Donatus Mote, pendidikan adalah fondasi fundamental bagi kehidupan masyarakat, gereja, dan roda pembangunan pemerintahan. Ia menekankan bahwa Papua Tengah, sebagai salah satu provinsi terkaya di Indonesia, harus memulai langkah pembangunan dengan memprioritaskan pendidikan guna menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal, cerdas, dan terampil.
”Provinsi yang kaya raya mesti menyiapkan Sumber Daya Manusia yang handal, cerdas, dan mempunyai skill yang nantinya bisa memimpin tanah ini, mengelola kekayaan alam, dan membangunkan tanah Papua Tengah ini,” ujar Donatus Mote, menjelaskan semangat di balik fokus kunjungannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Temuan di Lapangan: Tantangan Pendidikan Anak Asli Papua
Dalam kunjungannya, Donatus Mote menemukan beragam permasalahan yang menghambat anak-anak asli Papua dalam meraih pendidikan. Masalah utama yang menjadi sorotan adalah angka putus sekolah yang tinggi dan ketidakhadiran siswa yang tidak teratur (sering absen) di kalangan anak-anak asli Papua.
Di sisi lain, ia juga menyaksikan kegigihan luar biasa dari sejumlah siswa Orang Asli Papua (OAP) yang tetap aktif bersekolah meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi yang signifikan.
”Ada juga anak-anak Orang Asli Papua aktif sekolah sekalipun ada banyak keterbatasan. Misalnya, setiap pagi jalan kaki ke sekolah dan pulang juga jalan kaki tanpa ada bekal yang disiapkan oleh orang tua. Tidak ada antar jemput, namun anaknya aktif datang ke sekolah. Ada yang aktif sekolah tapi belum memakai sepatu dan baju seragam,” tuturnya dengan nada prihatin.
Mote menyadari sepenuhnya bahwa penyediaan perlengkapan sekolah adalah tanggung jawab orang tua. Namun, ia mengaku sedih melihat kondisi ekonomi sebagian besar orang tua yang hidup di bawah standar, sehingga belum mampu menyiapkan seragam, sepatu, dan kebutuhan sekolah lainnya.
Cita-cita Tinggi dan Harapan Dukungan Pemerintah
Dalam sesi dialog dengan para siswa OAP, Mote dikejutkan dengan semangat dan cita-cita tinggi yang diungkapkan oleh anak-anak tersebut. Namun, hal ini juga memunculkan pertanyaan kritis.
”Yang menjadi pertanyaan adalah, akankah anak-anak yang bercita-cita tinggi ini akan didukung dalam biaya studi? Kalau orang tua sudah tidak mampu dalam ekonomi, siapa yang akan membiayai mereka?” tanya Mote. Ia berharap uluran tangan Pemerintah dapat hadir untuk memastikan impian anak-anak ini bisa tercapai. “Semoga Tuhan hadir dalam tangan Pemerintah untuk anak-anak ini diperhatikan dengan serius dalam mengejar impiannya,” harapnya.
Kunjungan Diakhiri dengan Pembagian Tali Kasih Natal
Sebagai bentuk dukungan dan penyemangat, Donatus Mote mengakhiri kunjungan kerjanya dengan menyerahkan bantuan berupa alat tulis seperti buku dan bolpoin, serta memberikan uang tali kasih Natal kepada siswa Orang Asli Papua.
”Saya memberikan hadiah Natal kepada siswa Orang Asli Papua dengan tujuan agar mereka tambah semangat untuk sekolah, agar mereka tidak putus asa dalam mengejar impiannya, dan agar mereka lebih aktif datang ke sekolah sekalipun banyak keterbatasan dalam proses pendidikan,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan pesan motivasi yang mendalam kepada para siswa OAP: “Tetap semangat untuk sekolah, sebab selain orang tua, masih ada TUHAN yang akan menopang hidup dalam mengejar impian di atas tanah Papua ini.”






