Deiyai [SINAR BEMO] — Ketegangan yang berujung pada insiden tragis, termasuk pembunuhan seorang Gembala Neles Peuki di Mogodagi Kapiraya, perbatasan wilayah Suku Mee dan Suku Kamoro, menuai keprihatinan mendalam dari kalangan intelektual muda gereja. Step Y. Edowai, salah satu pemuda Gereja KINGMI Papua dari Deiyai, secara terbuka mendesak Pansus DPRD dan tim terkait untuk segera melakukan klarifikasi menyeluruh dan independen.
Edowai menyoroti kejanggalan di balik situasi ini, mengingat sejarah kedua suku yang dikenal hidup berdampingan secara harmonis. “Dahulu antara Suku Mee dan Kamoro hidup berdampingan, kok tiba-tiba terjadi situasi menjadi tegang seperti ini?” ujar Edowai, yang merasa ada hal-hal lain yang menjadi pemicu utama konflik.
Ia dengan tegas meminta agar Pansus tidak hanya fokus pada isu tapal batas semata. “Kami sarankan Pansus yang telah dibentuk dan tim yang akan menangani masalah ini, klarifikasi sampaikan akar-akar jangan dilihat soal tapal batas saja, tetapi harus klarifikasi baik-baik sebab ini pasti ada menyimpan hal lain agar semua terungkap,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pernyataannya, Edowai juga mengutuk keras pelaku pembunuhan terhadap Hamba Tuhan/Gembala di Kapiraya. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai perbuatan yang tidak beradab dan tidak beragama, terutama menjelang bulan damai perayaan Natal.
Tujuan utama desakan ini adalah untuk membongkar tuntas dalang di balik ketegangan yang terjadi, sehingga akar masalah dapat teratasi. Edowai berharap, dengan terungkapnya semua fakta, kerukunan dan kehidupan harmonis antara Suku Mee dan Suku Kamoro dapat kembali terjalin seperti sediakala.
”Kami mengajak melalui pihak terkait PANSUS DPRD segera klarifikasi masalah, baik-baik masalahnya itu dalangnya dari mana… agar kedepannya kembali seperti dulu, agar hidup tetap harmonis antara kedua Suku ini,” tutupnya.






