DEIYAI [SINAR BEMO] — Di sebuah sudut Kabupaten Deiyai, tepat di antara keheningan area pemakaman dan sakralnya bangunan gereja, berdiri Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) Aweidabi. Lokasi unik ini membuahkan julukan filosofis: sekolah “Antara Hidup dan Mati”. Namun, di balik julukan tersebut, semangat kehidupan intelektual justru berkobar sangat kencang.
Hari ini, Kamis (12/3/2026), suasana sekolah tampak berbeda. Sebanyak 59 siswa-siswi Kelas XII berdiri dengan tegak dan penuh percaya diri. Bukan untuk ujian biasa, melainkan untuk mempertahankan hasil riset mereka dalam gelaran Presentasi Seminar Karya Ilmiah.

Perjalanan Panjang Dua Tahun
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Keberhasilan presentasi hari ini bukanlah hasil instan. Dalam keterangan tertulis yang diterima Sinar Bemo, Guru Bahasa Indonesia sekaligus Pembimbing Karya Ilmiah, Emanuel Mote, S.E., mengungkapkan bahwa penugasan ini adalah sebuah maraton akademik yang dimulai sejak Agustus 2024. Artinya, selama hampir dua tahun, para siswa telah bergelut dengan data, teori, dan realita di lapangan.
”Kami tidak membiarkan mereka berjalan sendiri. Pendampingan dilakukan secara intensif setiap dua kali seminggu. Kami mengawal mulai dari pemilihan judul yang relevan dengan masalah di sekitar, penyusunan kerangka berpikir, metodologi, hingga perbaikan tata bahasa yang sesuai dengan kaidah literasi,” urai Emanuel.

Uji Mental dan Intelektualitas
Di ruang presentasi, suasana terasa dinamis. Para penguji tidak sekadar mendengarkan, tetapi memberikan tanggapan kritis. Dialog intelektual ini sengaja diciptakan untuk memberikan pemahaman mendalam bagi siswa, memaksa mereka mempertahankan argumentasi dengan data yang valid.
Meski ditekan dengan pertanyaan tajam, para penguji tetap memberikan apresiasi tinggi atas penguasaan materi dan ketenangan yang ditunjukkan para siswa di podium. Antusiasme yang terpancar dari wajah para siswa menjadi bukti bahwa mereka benar-benar memahami apa yang mereka tulis.

Lebih dari Sekadar Syarat Lulus
Bagi Emanuel Mote dan jajaran guru di SMAK Aweidabi, kegiatan ini memiliki misi yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi syarat kelulusan. Ada harapan besar yang tersampir pada setiap lembar riset yang dihasilkan oleh putra-putri Deiyai ini.
”Melihat mereka tampil hari ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Namun, harapan kami adalah ini menjadi bekal berharga saat mereka melangkah ke perguruan tinggi nanti. Mereka sudah punya mental peneliti,” tegas Emanuel.
Ia juga berharap hasil penelitian siswa ini tidak berakhir di rak perpustakaan saja, melainkan dapat menjadi referensi dan kontribusi nyata bagi Pemerintah Daerah, masyarakat luas, serta para pembaca secara umum.

Pesan Tentang Proses
Menutup rangkaian kegiatan, Emanuel menitipkan pesan menyentuh bagi anak didiknya. Ia menekankan bahwa esensi dari karya ilmiah adalah tentang proses, bukan sekadar hasil akhir.
”Jangan hanya melihat hasil atau nilai yang didapat. Lihatlah proses jatuh bangun, kesulitan mencari data, dan revisi berulang kali yang telah kalian lalui. Terima kasih juga kepada pihak keluarga, rekan guru, dan sesama siswa yang telah saling mendukung hingga proses ini selesai,” tutupnya.












