Deiyai [SINAR BEMO] — Situasi di Distrik Kapiraya, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, masih mencekam menyusul bentrokan antarsuku yang terjadi beberapa minggu terakhir. Pemerintah Distrik Kapiraya dan perwakilan DPRD berhasil mengevakuasi total 75 orang warga—termasuk dewasa dan anak-anak—dari Kampung Mogodagi dan Kampung Yamouwitina menuju Timika untuk mendapatkan perlindungan dan pemulihan trauma.
Kepala Distrik Kapiraya, Ibu Akuliana Badokapa, S.IP, didampingi Ibu Anace Yuppy, S.Kep. Ners (Anggota DPRK Utusan Distrik Kapiraya), memimpin langsung proses evakuasi. Langkah ini diambil setelah masyarakat mengalami trauma berat akibat penyerangan oleh kelompok dari Suku Kamoro dan Suku Kei di Kampung Mogodagi.
”Kami mengevakuasi 75 orang dari Kapiraya ke Timika karena mereka mengalami trauma atas penyerangan yang terjadi di Kampung Mogodagi,” ujar Ibu Akuliana Badokapa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur
Peristiwa tragis ini tidak hanya menimbulkan trauma psikologis tetapi juga kerugian material yang besar, termasuk jatuhnya korban jiwa. Saksi mata di lokasi kejadian menyebutkan bahwa penyerangan tersebut mengakibatkan pembunuhan terhadap seorang hamba Tuhan, Pdt. Neles Peuki, yang ditemukan dibunuh, dibakar, dan dikuburkan di Kampung Mogodagi.
Data yang dikumpulkan langsung oleh Kepala Distrik dan Anggota DPRK di Kampung Yamouwitina menunjukkan kerugian yang signifikan, di antaranya:
Korban Harta Benda:
1. 26 unit rumah warga ludes terbakar.
2. 1 unit Gedung Pustu (Puskesmas Pembantu) dibakar.
3. 1 unit jaringan 4G ikut rusak.
Kerugian uang tunai yang terbakar mencapai ratusan juta rupiah, dengan dua warga melaporkan kehilangan masing-masing lebih dari Rp120 juta dan Rp72 juta.
Korban Manusia (Luka-Luka):
1. Nelius Peuki (Luka panah, dirawat di RSUD Madi).
2. Isak Anouw (Luka parang, dirawat di RSUD Madi).
3. Menase Dimi ( Luka Kartapel, di kepala mendapat perawatan setelah tim medis tiba di Kapiraya )
4. Aten Anouw ( Luka Kertapel di kepala belum mendapat perawatan, berangkat ke Deiya melalui jalan darat ke Deiyai )
5. Yulianus Goo ( Luka kertapel di kepala belum mendapat penanganan medis, berada di Kampung Yamoutina )
6. Yulian Goo ( luka kertapel di kepala belum mendapat penanganan medis, berada di kampung Yamouwitina )
7. Pdt. Neles Peuki ( Dibunuh lalu dibakar dan dikuburkan di kampung Mogodagi ).
Tuntutan Masyarakat dan Akar Masalah
Masyarakat Suku Mee di Kampung Mogodagi menyampaikan empat tuntutan utama kepada Pemerintah Kabupaten Deiyai:
1. Membangun kembali rumah warga dan Pustu yang telah dibakar.
2. Mendirikan pos keamanan di Kampung Yamouwitina dan Kampung Mogodagi.
3. Segera menyelesaikan sengketa tapal batas antara Suku Mee dan Kamoro.
4. Menangkap dan memproses hukum para pelaku yang menewaskan Pdt. Neles Peuki.
Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Kamoro, Karitus Karila, mengakui bahwa penyerangan awal di Lokpon dipicu oleh dua alasan, yaitu larangan Suku Mee terhadap Suku Kamoro untuk mengambil pasir/batu di Kali Yawei Eyagaikigi, serta pemasangan papan nama pemekaran kampung baru tanpa sepengetahuan Suku Kamoro. Karitus juga menyebutkan bahwa penyerangan di Mogodagi adalah murni balas dendam atas pembakaran rumah dan alat berat di Kampung Wakia tahun lalu.
Kepala Distrik Akuliana Badokapa dan Anggota DPRK Anace Yuppy menyimpulkan bahwa konflik di Kampung Mogodagi ini dipicu oleh tiga faktor utama:
1. Tapal batas wilayah pemerintah.
2. Tapal batas wilayah adat antara Suku Mee dan Kamoro.
3. Operasi pendulangan emas ilegal di Kampung Wakia.
Seruan untuk Penyelesaian Bersama
Dari 75 warga yang dievakuasi, 37 orang akan melanjutkan perjalanan ke Deiyai, sementara 33 orang akan mengikuti perayaan Natal di Timika.
Para pejabat Distrik Kapiraya mendesak Pemerintah Kabupaten Mimika, Deiyai, Dogiyai, serta Pemerintah Provinsi Papua Tengah, bersama lembaga adat dan tokoh-tokoh dari Suku Kamoro dan Suku Mee, untuk segera mencari solusi.
”Kami Masyarakat Kamoro dan Mee hidup berdampingan, rukun, dan harmonis sejak nenek moyang kami ada. Kami tidak mau lagi hal serupa terjadi di kemudian hari,” tutup Akuliana Badokapa, menyerukan perdamaian.






