DOGIYAI [SINAR BEMO] – Siorus Degei, Pemuda Papua asal kabupaten Dogiyai ini berhasil Luncurkan empat buah buku hasil karyanya sekaligus. Peluncuran empat buku tersebut dilakukan di Aula SMA 02 Dogiyai, Moanemani, Kamis (11/02) siang
Empat buku tersebut diantaranya, Ratapan Papuana – sebuah mozaik Cerpen, Dekolonisasi Rasisme Epistemik – sebuah Pengantar Filsafat Kritis, Maria Mama Noken Kebenaran – Sebuah Refleksi Etno-Mariologis Papua, dan buku yang keempat adalah Depapuanisme – Sebuah Etika Dekolonisasi Papua
Siorus dalam pengantarnya sebelum diluncurkan mengatakan keempat buku tersebut punya latar belakang dan cerita masing-masing. Misalnya, buku Ratapan Papuana – sebuah mozaik Cerpen tersebut terinspirasi dari cerita-cerita dongeng dari mamanya sejak Siorus masih kecil di kampung halamannya, Putapa, distrik Mapia Tengah, Dogiyai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Buku yang lain juga terinspirasi dengan keadaan di tanah Papua. Dimana, kata Siorus, ada banyak ketidakadilan yang terjadi pada orang asli Papua dalam berbagai bidang.
Keempat buku lintas genre tersebut, Siorus Degei menyebut hasil ‘nazar Intelektual’ di tanah Papua
“Dari realita yang ada di tanah Papua ini mendorong saya selama ini untuk menulis buku-buku ini,” ujar calon imam Katolik ini
Ia mengajak kepada seluruh orang Papua terutama kepada para pelajar, mahasiswa, intelektual dan Pemuda Papua untuk bisa menulis tentang keadaan Papua
“Kita harus tulis keras dengan keadaan keras yang terjadi di tanah Papua. Untuk Papua ini, harus ditulis oleh orang Papua sendiri sebagai bangsa yang sedang terjajah,” ajaknya dengan tegas
Salah satu narasumber dalam peluncuran, Vitalis Goo mengapresiasi atas kehadiran empat buku yang sudah ditulis. Buku-buku tersebut, kata Vitalis sudah diterjemahkan realita kehidupan orang Papua dalam berbagai genre
Sementara, Narasumber lain, Jhon Gobai mengatakan menulis buku di tanah Papua dengan situasi yang ada merupakan perawatan pikiran dalam tulisan
“Kita harus berani kritik dengan keadaan di tanah Papua yang semakin tidak adil terhadap alam dan orang asli Papua di tanahnya sendiri,” tegas Jhon
Ia juga mengajak orang asli Papua menulis seperti Siorus. Dimana, dalam menulis harus pro kepada masyarakat yang menjadi korban dalam berbagai hal
“Dalam kondisi kita saat ini, budaya setiap suku harus bisa menjadi basis produksi atau pusat pengetahuan ke-Papua-an,” ajak Jhon lagi
Salah satu peserta, Aleks Giyai juga mengapresiasi atas kehadiran buku-buku tersebut. Salah satu kehebatan Siorus menurut Giyai Adalah Siorus mampu mengkontekstualisasikan pikiran orang-orang luar dengan keadaan di tanah Papua saat ini
Di tanah Papua, kata Giyai, kolonialisme sudah dan sedang terjadi dalam berbagai bidang secara sistematis, terstruktur dan masif. Hal itu sudah harus dilawan dengan salah satunya itu menulis
Dalam peluncuran empat buku tersebut, puluhan pelajar dari SMP dan SMA hadir dan ikut kegiatan tersebut dengan sangat antusias sejak pagi hingga sore. (PK)






