Deiyai [SINAR BEMO] – 20 Oktober 2025. Gelaran akbar Papua Reggae Festival (PRF) ke-10 yang sukses menggema di Wamena, Papua Pegunungan, pada tanggal 18 dan 19 Oktober 2025 menyisakan satu catatan: absennya salah satu grup band reggae MEEUWODIDE BAND . Meskipun demikian, band tersebut menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada penyelenggara.
Pimpinan MEEUWODIDE BAND , Simion Kotouki, secara resmi mengungkapkan rasa hormat dan penyesalannya karena tidak dapat tampil di panggung festival tahunan yang bergengsi tersebut.
“Kami telah menerima undangan hormat dari Komunitas Rasta Kribo (KORK) Papua sejak 15 September 2025. Undangan ini adalah sebuah penghargaan dan rasa hormat yang luar biasa bagi kami,” ujar Simion Kotouki, mewakili seluruh manajer dan personel band.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Undangan tersebut penanda menjadi pengakuan atas kontribusi MEEUWODIDE BAND dalam kancah musik reggae Papua. Namun, niat tulus untuk berpartisipasi harus terhalang oleh kendala non-teknis yang krusial.
Jalur Damai Terhalang Biaya
Dalam pernyataan naratifnya, Simion Kotouki menjelaskan upaya keras yang telah mereka lakukan untuk memastikan kehadiran mereka di Wamena.
“Kami sudah melakukan upaya maksimal untuk mengumpulkan dana biaya rekomendasi dan transportasi dari Deiyai menuju Wamena, namun sayangnya upaya tersebut belum sempat terjawab hingga batas waktu penampilan,” jelasnya dengan nada penuh harap yang belum terpenuhi.
Akibat kendala finansial ini, MEEUWODIDE BAND terpaksa mengambil keputusan berat untuk tidak ikut dalam deretan musisi yang tampil memeriahkan Papua Reggae Festival ke-X. Keputusan ini menunjukkan tantangan logistik dan pendanaan yang masih dihadapi oleh seniman dari berbagai wilayah di Tanah Papua.
Apresiasi Penuh untuk Semangat Perdamaian
Meski harus absen di panggung, MEEUWODIDE BAND tidak luput memberikan pujian tinggi kepada seluruh musisi dan pihak yang terlibat. Mereka memandang festival ini sebagai wujud nyata dari semangat persatuan dan perdamaian di tengah keberagaman budaya Papua.
“Kami sampaikan terima kasih tak terhingga kepada semua grup band yang sudah mewakili kami menyuarakan kedamaian dan persatuan melalui alunan musik reggae yang menggema di Wamena. Penampilan semua grup band di Wamena telah menjadi inspirasi dan motivasi yang memberikan energi positif bagi kami untuk terus berkarya,” kata Kotouki, menggarisbawahi esensi festival sebagai medium pesan sosial.
Apresiasi khusus ditujukan kepada Komunitas Rasta Kribo (KORK) yang dipimpin oleh Kaka Thedy Pekei dan didukung oleh Eric Mandosir serta rekan-rekan pengurus lainnya, bersama Panitia Nies Word Foundation, yang telah berkolaborasi secara apik.
”Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada KORK dan Panitia Nies Word Foundation yang telah berkolaborasi dengan baik, sehingga PRF ke-10 sudah berjalan dengan sukses, lancar, dan aman,” tambahnya.
Harapan untuk Panggung Tahun Depan
Menutup pernyataannya, Simion Kotouki dan seluruh personel MEEUWODIDE BAND menyuarakan harapan besar untuk tahun mendatang. Mereka bertekad untuk menjadi bagian dari perayaan musik terbesar di Tanah Papua tersebut.
“Kami sangat dinantikan tahun depan bisa berjumpa kembali, dan dapat tampil, dalam perhelatan akbar PRF ke-11, entah di mana pun tempatnya nanti. Kami akan mempersiapkan diri dengan lebih baik,” tutup Simion Kotouki, mengakhiri pesannya dengan optimisme dan semangat One Love yang menjadi ciri khas musik reggae.
Absennya MEEUWODIDE BAND kali ini menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap seniman lokal, khususnya dari segi penginapan dan biaya perjalanan, tetap menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak agar suara-suara perdamaian dan persatuan dari seluruh penjuru Papua dapat terus bergema di panggung-panggung nasional.






