Dari Air Mata Anak Yatim hingga Meraih Gelar Doktor, Perjalanan Hidup Isak Waine Menggetarkan Hati

Tuesday, 27 October 2026 - 17:45 WIT

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

DOGIYAI, SINAR BEMO— Keterbatasan ekonomi, kehilangan kedua orang tua sejak duduk di bangku SMP, hingga hampir menyerah karena tidak memiliki biaya pendidikan tidak mematahkan semangat Isak Waine untuk meraih cita-citanya.

Berasal dari keluarga petani di Kampung Puweta I, Distrik Kamu Selatan, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah, Isak kini selangkah lagi menuju gelar doktor di bidang Kesehatan Masyarakat.

Pada usia 37 tahun, Isak telah melewati perjalanan panjang pendidikan yang penuh tantangan. Ia menempuh pendidikan doktoral di Universitas Strada Indonesia, Kediri, Jawa Timur, setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister Kesehatan Masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perjuangan Isak menjadi bukti bahwa latar belakang keluarga sederhana bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi, selama seseorang memiliki tekad, ketekunan, dan kemauan untuk terus berjuang.

“Saya bukan anak orang kaya. Saya hanyalah anak petani dari Tanah Papua yang memiliki mimpi besar, tekad yang kuat, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan,” ungkap Isak dalam kisah perjalanan hidupnya.

Kehilangan Orang Tua Sejak SMP, Tetap Berjuang Meraih Cita-Cita

Isak lahir dan dibesarkan di Kampung Puweta I, Distrik Kamu Selatan, Kabupaten Dogiyai. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SD Inpres Uwibutu/Madi, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP YPPGI Enarotali.

Namun, ketika masih duduk di bangku SMP, Isak harus menghadapi kenyataan pahit setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Sejak saat itu, ia melanjutkan hidup bersama keluarga kakak-kakaknya. Di tengah keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab keluarga yang juga harus memenuhi kebutuhan rumah tangga masing-masing, Isak tetap menyimpan impian untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Pada 2004, setelah menyelesaikan pendidikan SMP, ia melanjutkan sekolah menengah atas di Biak. Setelah lulus SMA pada 2007, Isak mulai memikirkan bagaimana caranya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dengan dukungan saudara-saudaranya, ia akhirnya memutuskan berangkat ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan S1 Kesehatan Masyarakat.

Modal yang dibawanya sangat terbatas, yakni hanya Rp 3 juta. Di tengah teman-temannya yang memiliki bekal lebih besar, Isak harus berjuang memenuhi kebutuhan kuliah dan biaya hidup di tanah rantau. Tidak jarang, keadaan tersebut membuatnya merasa putus asa dan berpikir untuk kembali ke Papua.

Nasihat Almarhum Ones Yobee yang Mengubah Semangatnya

Di tengah situasi sulit tersebut, Isak mendapatkan dukungan dari almarhum Ones Yobee, seorang kakak senior yang memberikan motivasi ketika dirinya hampir menyerah.

“Adik, kenapa mau pulang ke Papua? Kalau adik sudah menginjakkan kaki di Jawa, berarti adik harus pulang membawa ijazah. Walaupun rambut sudah putih, adik harus membawa ijazah terlebih dahulu sebelum pulang ke Papua,” demikian pesan yang dikenang Isak.

Nasihat itu menjadi titik balik dalam perjalanan pendidikannya. Almarhum Ones Yobee kemudian mengajaknya menemui pimpinan kampus untuk menjelaskan kondisi ekonomi yang dihadapinya. Isak menyampaikan kesungguhannya untuk menyelesaikan pendidikan, meskipun harus membayar biaya kuliah secara bertahap.

Kesempatan tersebut menjadi jalan baginya untuk bertahan dan melanjutkan pendidikan. Bagi Isak, pertolongan itu bukan sekadar bantuan finansial, melainkan bukti bahwa kehadiran seseorang pada saat yang tepat dapat mengubah arah kehidupan orang lain.

Menyelesaikan Sarjana, Bekerja, dan Mengabdi di Bidang Kesehatan

Perjuangan Isak akhirnya membuahkan hasil. Pada 12 September 2011, ia melaksanakan ujian skripsi S1 Kesehatan Masyarakat.

Setelah menyelesaikan tahap akademik tersebut, perjalanan hidupnya berlanjut ke dunia kerja. Pada awal Oktober 2011, ketika sedang menunggu wisuda, ia menerima panggilan untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari proses penerimaan kerja di PT Redpath Indonesia, perusahaan kontraktor yang bermitra dengan PT Freeport Indonesia.

Pada 2013, Isak mengikuti seleksi CPNS Kabupaten Dogiyai dan kemudian diangkat menjadi CPNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Dogiyai. Pada 2017, ia kembali melanjutkan pendidikan S2 Kesehatan Masyarakat di Universitas Cenderawasih dan berhasil menyelesaikannya pada 2019. Pengalaman pendidikan dan pekerjaannya semakin memperkuat keyakinan Isak bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Dari Kabupaten Dogiyai Menuju Pendidikan Doktoral di Jawa Timur

Pada 2022, Isak memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral setelah mendapatkan informasi mengenai penerimaan mahasiswa Program Studi Doktor Kesehatan Masyarakat di Universitas Strada Indonesia, Kediri, Jawa Timur.

Keputusan tersebut bukan tanpa tantangan. Di tengah tanggung jawab pekerjaan dan berbagai kebutuhan kehidupan, ia harus kembali membagi waktu, tenaga, dan pikiran untuk menyelesaikan pendidikan. Pengalaman hidup sejak kehilangan kedua orang tua, perjuangan bersama keluarga, keterbatasan biaya ketika merantau, serta nasihat almarhum Ones Yobee menjadi sumber kekuatan baginya.

Dengan ketekunan dan keyakinan kepada Tuhan, Isak terus menjalani proses akademik, memperbaiki penelitian, dan menyelesaikan disertasi. Pada 27 Oktober 2026, Isak berhasil melaksanakan Ujian Tertutup Disertasi dengan baik. Ia kini menantikan jadwal Ujian Promosi Doktor sebagai tahapan berikutnya menuju gelar doktor.

Pesan Isak untuk Generasi Muda Papua

Melalui kisah hidupnya, Isak menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda Papua, terutama mereka yang berasal dari keluarga sederhana dan sedang menghadapi keterbatasan ekonomi. Ia mengingatkan agar anak-anak Papua tidak merasa rendah diri karena berasal dari keluarga petani, kampung terpencil, atau keluarga yang tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai.

“Jangan pernah malu menjadi anak petani. Jangan pernah merasa rendah diri karena berasal dari keluarga sederhana. Jangan pernah menganggap kehilangan orang tua, keterbatasan ekonomi, atau keadaan keluarga sebagai alasan untuk menguburkan cita-cita,” pesannya.

Menurut Isak, pendidikan bukan semata-mata untuk memperoleh gelar akademik atau mengejar jabatan, melainkan untuk membangun karakter, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan dalam memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Jangan hanya mengejar gelar, kejarlah ilmu. Jangan hanya mengejar jabatan, kejarlah pengabdian. Jangan hanya ingin dihormati, jadilah pribadi yang bermanfaat bagi sesama,” tegasnya.

Pendidikan dan Karakter Menjadi Kunci Masa Depan

Isak menilai bahwa pembangunan sumber daya manusia Papua membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, pemerintah, lembaga pendidikan, hingga lingkungan masyarakat. Generasi muda membutuhkan kesempatan pendidikan yang memadai, pembinaan karakter, keteladanan, serta dukungan untuk mengembangkan potensi mereka.

Ia berharap semakin banyak anak Papua yang mampu menyelesaikan pendidikan tinggi dan berkiprah dalam berbagai bidang, seperti kesehatan, pendidikan, penelitian, teknik, kewirausahaan, pemerintahan, dan bidang profesional lainnya.

Bagi Isak, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari jumlah gelar yang dimiliki seseorang. Hal yang lebih penting adalah bagaimana ilmu tersebut digunakan untuk membantu masyarakat, membangun kampung halaman, dan mendorong perubahan yang positif.

“Papua tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas. Papua membutuhkan generasi yang berilmu, jujur, berkarakter, rendah hati, dan memiliki hati untuk membangun masyarakatnya,” ungkapnya.

Menghargai Orang-Orang yang Hadir dalam Perjuangan

Di balik perjalanan panjangnya, Isak menyadari bahwa pencapaian yang diraihnya tidak terlepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya. Ia menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan kakak-kakaknya yang telah membantu ketika kondisi ekonomi sangat terbatas, para dosen yang membimbing proses akademiknya, rekan-rekan yang memberikan semangat, serta orang-orang yang telah membuka jalan ketika ia menghadapi kesulitan.

Secara khusus, ia mengenang kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia serta almarhum Ones Yobee yang memberikan nasihat ketika dirinya hampir menyerah. Bagi Isak, kebaikan yang diterima seseorang harus diteruskan kepada orang lain. Ia berharap pengalaman hidupnya dapat menjadi motivasi untuk membantu generasi muda Papua agar tetap memiliki harapan dan keberanian memperjuangkan masa depan.

Dari Anak Petani untuk Tanah Papua

Perjalanan Isak Waine merupakan gambaran tentang perjuangan seorang anak dari keluarga sederhana yang berusaha mengubah masa depannya melalui pendidikan. Berangkat dari kampung di Kabupaten Dogiyai dengan bekal Rp 3 juta, kehilangan kedua orang tua sejak SMP, hingga menghadapi keterbatasan biaya di tanah rantau, ia terus melangkah sampai berhasil mencapai tahap Ujian Tertutup Disertasi.

Meski masih menantikan Ujian Promosi Doktor, Isak memandang pencapaian tersebut bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengabdi kepada masyarakat.

Ia berharap kisah hidupnya dapat menjadi penyemangat bagi anak-anak Papua, khususnya generasi muda Kabupaten Dogiyai, agar berani bermimpi, tekun belajar, menjaga integritas, dan tidak menyerah pada keadaan. Menurutnya, setiap anak memiliki hak untuk memperoleh kesempatan pendidikan dan membangun masa depan yang lebih baik, tanpa harus dibatasi oleh latar belakang ekonomi keluarganya.

“Jangan pernah meremehkan anak dari keluarga sederhana. Jangan pernah memandang rendah anak petani. Sebab, dengan kesempatan, pendidikan, kerja keras, integritas, dan pertolongan Tuhan, anak dari kampung terpencil pun dapat berdiri dan memberikan kontribusi bagi dunia,” tutup Isak.

Kisah Isak Waine menjadi pengingat bahwa keberhasilan bukan semata-mata ditentukan oleh dari mana seseorang berasal, melainkan juga oleh keberanian untuk memulai, ketekunan dalam berjuang, kesediaan menerima pertolongan, serta komitmen untuk menggunakan ilmu demi kebaikan sesama.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

IPPMA KEDEGAPO Nabire Bekali Mahasiswa Baru dengan Seminar Penguatan Karakter dan Manajemen Waktu
Dinas Sosial Deiyai Buka Pendaftaran Perlinsos, Pendataan Penerima Bansos 2027 Mulai Disiapkan
Bupati Melkianus Mote Pastikan Pembangunan Asrama SMPTK YPPGI Gakokebo Berjalan Sesuai Target
Mando Mote: 25 Gereja di Deiyai Bisa Ambil Bantuan Beras Mulai 12 Oktober
Ernest Kotouki: Tukang Putra Daerah Harus Kembangkan Talenta dan Kemampuan
Disnaker Deiyai Serahkan Bantuan Alat Pertukangan kepada 30 Tukang Lokal OAP
30 Unsur DWP Deiyai Dikukuhkan, Bupati Dorong Fokus pada Pendidikan, Ekonomi dan Sosial
Seragam DWP Dibagikan, Dinas Perumahan Deiyai Dorong Kekompakan Anggota

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Tuesday, 27 October 2026 - 17:45 WIT

Dari Air Mata Anak Yatim hingga Meraih Gelar Doktor, Perjalanan Hidup Isak Waine Menggetarkan Hati

Monday, 26 October 2026 - 18:35 WIT

IPPMA KEDEGAPO Nabire Bekali Mahasiswa Baru dengan Seminar Penguatan Karakter dan Manajemen Waktu

Sunday, 25 October 2026 - 06:10 WIT

Dinas Sosial Deiyai Buka Pendaftaran Perlinsos, Pendataan Penerima Bansos 2027 Mulai Disiapkan

Wednesday, 21 October 2026 - 16:43 WIT

Bupati Melkianus Mote Pastikan Pembangunan Asrama SMPTK YPPGI Gakokebo Berjalan Sesuai Target

Saturday, 10 October 2026 - 04:42 WIT

Mando Mote: 25 Gereja di Deiyai Bisa Ambil Bantuan Beras Mulai 12 Oktober

Berita Terbaru