Deiyai [SINAR BEMO] – Dokter Spesialis Anak, dr. Merry, menekankan pentingnya deteksi dini, edukasi keluarga, serta peningkatan pelayanan kesehatan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Deiyai.
Hal tersebut disampaikan dr. Merry saat memberikan materi dalam kegiatan evaluasi kematian ibu dan bayi yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten Deiyai di ruang pertemuan Dinas Kesehatan, Kamis (7/5/2026).
Dalam pemaparannya, dr. Merry menjelaskan bahwa penanganan ibu hamil dengan risiko diabetes gestasional harus dilakukan secara hati-hati dan terkontrol. Menurutnya, penggunaan insulin menjadi pilihan utama karena aman bagi janin dan tidak menembus plasenta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain penggunaan insulin, ibu hamil juga harus mengatur pola makan dan asupan gizi secara seimbang, mulai dari karbohidrat, protein hingga lemak. Penanganan tersebut dilakukan secara terpadu oleh dokter kandungan, ahli gizi, dan bidan, serta disertai pemantauan rutin kadar gula darah.
Ia juga menyoroti bahaya perdarahan pasca persalinan yang menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu. Menurutnya, perdarahan harus segera ditangani melalui resusitasi cairan, pemantauan tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, hingga pemberian oksigen dan transfusi darah bila diperlukan.
Selain itu, dr. Merry mengingatkan tenaga kesehatan agar memberikan pendampingan psikologis kepada ibu yang mengalami keguguran atau abortus. Ia menilai kondisi tersebut membutuhkan dukungan emosional serta konseling yang baik kepada keluarga.
Pada sesi evaluasi kematian bayi, dr. Merry mengaku prihatin terhadap tingginya angka kematian bayi di wilayah Wagete. Ia meminta seluruh tenaga kesehatan melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat.
Menurutnya, salah satu faktor yang masih sering terjadi adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan sejak dini, terutama ketika mengalami diare, batuk, pilek, hingga demam berkepanjangan.
“Kasus diare dan pneumonia masih menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak. Padahal kondisi tersebut dapat dicegah atau diminimalisir melalui imunisasi dan penanganan cepat,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan layanan imunisasi gratis di puskesmas, seperti vaksin rotavirus, PCV, DPT, dan HIB yang berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap infeksi berat.
Selain infeksi, dr. Merry menjelaskan bahwa hipotermia pada bayi baru lahir, terutama bayi prematur dan berat badan lahir rendah, juga menjadi faktor risiko yang serius. Ia mengingatkan pentingnya menjaga suhu tubuh bayi dengan pakaian hangat, penutup kepala, sarung tangan, dan sarung kaki, khususnya di daerah dingin seperti Deiyai.
Di akhir pemaparannya, dr. Merry berharap seluruh tenaga kesehatan di Kabupaten Deiyai dapat bekerja sama meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak sehingga angka kematian ibu dan bayi dapat terus ditekan pada tahun-tahun mendatang.
Evaluasi kematian ibu dan bayi di Kabupaten Deiyai menjadi momentum penting untuk memperkuat pelayanan kesehatan, meningkatkan edukasi masyarakat, serta memperbaiki sistem deteksi dini terhadap kasus berisiko pada ibu hamil dan anak. Melalui kerja sama tenaga kesehatan, dukungan keluarga, dan pemanfaatan layanan kesehatan secara maksimal, diharapkan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Deiyai dapat terus menurun.













