Dedikasi dari “Antara Hidup dan Mati”: 59 Siswa SMAK Aweidabi Deiyai Tuntaskan Seminar Karya Ilmiah

Thursday, 12 March 2026 - 17:52 WIT

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Saat salah satu siswa SMAK Aweidabi presentasi karya ilmiahnya dihadapan Tiga Penguji dan puluhan siswa teman-temannya pada Kamis, 12/3/2026.

Saat salah satu siswa SMAK Aweidabi presentasi karya ilmiahnya dihadapan Tiga Penguji dan puluhan siswa teman-temannya pada Kamis, 12/3/2026.

DEIYAI [SINAR BEMO] — Di sebuah sudut Kabupaten Deiyai, tepat di antara keheningan area pemakaman dan sakralnya bangunan gereja, berdiri Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) Aweidabi. Lokasi unik ini membuahkan julukan filosofis: sekolah “Antara Hidup dan Mati”. Namun, di balik julukan tersebut, semangat kehidupan intelektual justru berkobar sangat kencang.

​Hari ini, Kamis (12/3/2026), suasana sekolah tampak berbeda. Sebanyak 59 siswa-siswi Kelas XII berdiri dengan tegak dan penuh percaya diri. Bukan untuk ujian biasa, melainkan untuk mempertahankan hasil riset mereka dalam gelaran Presentasi Seminar Karya Ilmiah.

Siswa saat presentasi karya ilmiah

Perjalanan Panjang Dua Tahun

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Keberhasilan presentasi hari ini bukanlah hasil instan. Dalam keterangan tertulis yang diterima Sinar Bemo, Guru Bahasa Indonesia sekaligus Pembimbing Karya Ilmiah, Emanuel Mote, S.E., mengungkapkan bahwa penugasan ini adalah sebuah maraton akademik yang dimulai sejak Agustus 2024. Artinya, selama hampir dua tahun, para siswa telah bergelut dengan data, teori, dan realita di lapangan.

​”Kami tidak membiarkan mereka berjalan sendiri. Pendampingan dilakukan secara intensif setiap dua kali seminggu. Kami mengawal mulai dari pemilihan judul yang relevan dengan masalah di sekitar, penyusunan kerangka berpikir, metodologi, hingga perbaikan tata bahasa yang sesuai dengan kaidah literasi,” urai Emanuel.

Salah satu siswa saat presentasi karya ilmiah.

Uji Mental dan Intelektualitas

​Di ruang presentasi, suasana terasa dinamis. Para penguji tidak sekadar mendengarkan, tetapi memberikan tanggapan kritis. Dialog intelektual ini sengaja diciptakan untuk memberikan pemahaman mendalam bagi siswa, memaksa mereka mempertahankan argumentasi dengan data yang valid.

​Meski ditekan dengan pertanyaan tajam, para penguji tetap memberikan apresiasi tinggi atas penguasaan materi dan ketenangan yang ditunjukkan para siswa di podium. Antusiasme yang terpancar dari wajah para siswa menjadi bukti bahwa mereka benar-benar memahami apa yang mereka tulis.

Ketiga Penguji saat memberikan tanggapan kritis dan pertanyaan.

Lebih dari Sekadar Syarat Lulus

​Bagi Emanuel Mote dan jajaran guru di SMAK Aweidabi, kegiatan ini memiliki misi yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi syarat kelulusan. Ada harapan besar yang tersampir pada setiap lembar riset yang dihasilkan oleh putra-putri Deiyai ini.

​”Melihat mereka tampil hari ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Namun, harapan kami adalah ini menjadi bekal berharga saat mereka melangkah ke perguruan tinggi nanti. Mereka sudah punya mental peneliti,” tegas Emanuel.

​Ia juga berharap hasil penelitian siswa ini tidak berakhir di rak perpustakaan saja, melainkan dapat menjadi referensi dan kontribusi nyata bagi Pemerintah Daerah, masyarakat luas, serta para pembaca secara umum.

Siswa saat presentasi karya ilmiah.

Pesan Tentang Proses

​Menutup rangkaian kegiatan, Emanuel menitipkan pesan menyentuh bagi anak didiknya. Ia menekankan bahwa esensi dari karya ilmiah adalah tentang proses, bukan sekadar hasil akhir.

​”Jangan hanya melihat hasil atau nilai yang didapat. Lihatlah proses jatuh bangun, kesulitan mencari data, dan revisi berulang kali yang telah kalian lalui. Terima kasih juga kepada pihak keluarga, rekan guru, dan sesama siswa yang telah saling mendukung hingga proses ini selesai,” tutupnya.

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

SMAK Aweidabi Juara Lomba Cerdas Cermat HUT ke-81 RI Tingkat SMA/SMK di Deiyai
Konfercab IV WKRI Waghete Resmi Dibuka, Wakil Bupati Deiyai Tekankan Peran Perempuan dalam Membangun Daerah
Pemkab Deiyai Salurkan Bantuan Ternak Langsung ke Kandang, Bupati: Dari Masyarakat untuk Masyarakat
Kemarau Panjang Berakhir, Hujan Guyur Kabupaten Deiyai
Musim Kemarau Bertahan, Hampir Tiap Rumah di Deiyai Kehabisan Persediaan Air
Ketua KND Apresiasi Pemkab Deiyai Hidupkan Kembali Lomba Musik Akustik, Dorong Dukungan Berkelanjutan bagi Seniman Lokal
Ayub Pigome Terima SK Ketua DPC PBB Deiyai, Siap Perkuat Konsolidasi dan Persatuan Masyarakat
Peduli Dampak Kemarau, Kepala Desa Okomo Kebo Salurkan Air Bersih kepada Masyarakat

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Thursday, 6 August 2026 - 14:12 WIT

SMAK Aweidabi Juara Lomba Cerdas Cermat HUT ke-81 RI Tingkat SMA/SMK di Deiyai

Thursday, 6 August 2026 - 13:48 WIT

Konfercab IV WKRI Waghete Resmi Dibuka, Wakil Bupati Deiyai Tekankan Peran Perempuan dalam Membangun Daerah

Thursday, 6 August 2026 - 12:45 WIT

Pemkab Deiyai Salurkan Bantuan Ternak Langsung ke Kandang, Bupati: Dari Masyarakat untuk Masyarakat

Sunday, 2 August 2026 - 22:56 WIT

Kemarau Panjang Berakhir, Hujan Guyur Kabupaten Deiyai

Sunday, 2 August 2026 - 22:30 WIT

Musim Kemarau Bertahan, Hampir Tiap Rumah di Deiyai Kehabisan Persediaan Air

Berita Terbaru