DEIYAI [SINAR BEMO] – Menghadapi dinamika perkembangan zaman yang kian kompleks, Persekutuan Anak dan Remaja (PAR) Koordinator Deiyai mengambil langkah konkret dalam membina mentalitas generasi muda. Melalui Seminar dan Pelatihan yang berlangsung pada 20–21 Februari 2026, ratusan anak sekolah Minggu dibekali nilai-nilai kedisiplinan dan spiritualitas.
Kegiatan strategis ini dipusatkan di dua lokasi, yakni Gedung Gereja Bethel Gakokebo dan Aula Aweida Klasis Tigi Utara. Acara ini melibatkan peserta dari enam Klasis di bawah naungan Koordinator Deiyai, didampingi oleh para pengasuh, pengurus PAR, serta sejumlah narasumber ahli.
Menjadi “Batu Asa” bagi Pemimpin Masa Depan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara dibuka dengan ibadah yang dipimpin oleh Ev. Kudiai. Dalam khotbahnya yang merujuk pada tema “Bersiap Melawan Tantangan Zaman”, ia memberikan pesan mendalam bagi para pengasuh anak.
”Pengasuh harus menjadi ‘batu asa’ (pengasah) bagi anak-anak. Teruslah membina dan mengajar dengan sabar, karena di tangan Anda lah calon-calon pemimpin pemerintahan dan gereja masa depan sedang dibentuk,” tegas Kudiai.
Selain penguatan spiritual, agenda ini juga mencakup sinkronisasi materi pelajaran sekolah Minggu. Tujuannya agar metode pengajaran di seluruh jemaat dan klasis memiliki standar yang sama, sehingga setiap anak mendapatkan kualitas pendidikan iman yang setara.
Gizi Sehat dan Manajemen Waktu sebagai Ibadah
Meski beberapa pemateri berhalangan hadir, sesi seminar tetap berlangsung inspiratif. Alpin Pakage, S.Tr.Gz, memaparkan materi penting mengenai Kesehatan Gizi. Ia menekankan bahwa menjaga tubuh adalah bentuk syukur kepada Sang Pencipta. Alpin menyoroti pola konsumsi remaja saat ini dan mengingatkan dampak buruk aktivitas yang merusak kesehatan fisik.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Yehezkiel B. Kotouki, S.H., M.H., yang membawakan materi Manajemen Waktu. Ia menegaskan bahwa menghargai waktu adalah bagian dari ibadah sejati.
”Tuhan memberikan waktu yang sama kepada semua orang. Orang yang disiplin adalah mereka yang menghargai pemberian Tuhan. Buatlah jadwal harian, dahulukan kewajiban di rumah, sekolah, dan gereja, lalu tepatilah,” ujar Yehezkiel memotivasi para peserta.
Musik sebagai Sarana Persekutuan
Sebagai penutup rangkaian pelatihan, Simion Kotouki memberikan materi Dasar Gitar. Baginya, musik bukan sekadar hobi, melainkan sarana krusial dalam memuji Tuhan dan mempererat persekutuan. Para peserta diajarkan teknik dasar yang meliputi pengenalan 12 kunci nada, notasi, hingga bentuk chord mayor, minor, dan mayor 7.
Kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan kader-kader muda Deiyai yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan terampil dalam seni, tetapi juga memiliki ketahanan karakter yang kuat di tengah arus modernisasi.






