DEIYAI, SINAR BEMO — Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Deiyai, Fransina Rumbiak Mote, memperkenalkan batik khas Suku Mee dalam Parade Ketua Dekranasda Kabupaten/Kota se-Indonesia di Hall Utama Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Senin (28/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Fransina tampil mengenakan busana bermotif batik khas Deiyai yang mengangkat identitas budaya masyarakat Mee. Busana itu juga membawa pesan filosofi motto Kabupaten Deiyai, “Dou Gaii Ekowai”, yang berarti Melihat, Berpikir, dan Bekerja.
Batik yang dikenakan Fransina merupakan karya Yasinta Douw, pemenang sayembara motif batik khas Deiyai yang diselenggarakan Dekranasda Kabupaten Deiyai pada 2025. Hasil karya tersebut kemudian dikreasikan menjadi busana oleh Iva Salon sebagai desainer, dengan memadukan unsur tradisional dan sentuhan modern.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fransina mengatakan, keikutsertaannya dalam parade tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Deiyai kepada masyarakat luas melalui karya seni dan busana.
“Melalui Dou Gaii Ekowai — Melihat, Berpikir, dan Bekerja, busana ini menjadi wujud kecintaan terhadap budaya Mee, sekaligus simbol kreativitas generasi muda Deiyai dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya melalui karya,” ujar Fransina seusai mengikuti parade di JICC, Senin siang.
Selain batik khas Deiyai, Fransina juga membawa noken genggam hasil karya mama-mama Deiyai. Noken tersebut dihiasi sentuhan bebi dan anggrek yang memperkuat karakter budaya Papua dalam penampilannya.
Perpaduan batik, busana, dan noken tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan hasil kreativitas masyarakat Deiyai, khususnya para perajin lokal, kepada masyarakat di tingkat nasional.
Parade Ketua Dekranasda Kabupaten/Kota se-Indonesia ini diikuti oleh para ketua Dekranasda dari berbagai daerah yang menampilkan busana dan kekayaan budaya masing-masing.
Melalui keikutsertaan tersebut, Dekranasda Kabupaten Deiyai memperkenalkan batik khas daerah sebagai salah satu bentuk pengembangan identitas budaya masyarakat Mee melalui industri kreatif.
Motif batik karya Yasinta Douw menunjukkan bahwa kekayaan budaya lokal dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai seni sekaligus menjadi sarana promosi daerah.
Kehadiran noken karya mama-mama Deiyai juga memperlihatkan peran para perajin perempuan dalam mempertahankan tradisi dan mengembangkan kerajinan tangan khas daerah.
Melalui kegiatan ini, Dekranasda Deiyai diharapkan dapat terus membuka ruang promosi bagi karya perajin dan generasi muda, sehingga batik dan kerajinan khas Deiyai semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Filosofi “Dou Gaii Ekowai” menjadi pesan yang dibawa dalam penampilan tersebut: melihat potensi budaya, berpikir kreatif, dan bekerja untuk mengembangkan serta memperkenalkan kekayaan budaya Deiyai ke tingkat nasional.













Komentar