Deiyai [SINAR BEMO] — Penyelenggaraan Musyawarah Pastoral Suku Mee (MUSPASME) di Komopa mendapat apresiasi tinggi dari berbagai kalangan intelektual suku Mee. Di tengah arus modernisasi, kegiatan ini dinilai sebagai momentum krusial untuk membangkitkan kembali adat istiadat yang mulai pudar.
Intelektual Muda Mee, Step Yoeler Edowai, SH, menegaskan bahwa hilangnya budaya adalah ancaman nyata bagi jati diri suku. “Jika adat istiadat hilang, kita kehilangan identitas. Dunia mengenal kita melalui budaya, dan kita mengenal diri kita sendiri melalui akar tradisi,” ungkapnya.
Edowai menekankan pentingnya inklusivitas dalam pelestarian ini, di mana perbedaan agama tidak boleh menjadi penghalang. Sinergi antara pemangku adat dan penyelenggara pemerintahan sangat diperlukan demi menjamin keselamatan hidup dan keberlangsungan nilai-nilai suku Mee ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai langkah konkret, Step Yoeler mengusulkan tiga poin utama untuk dipertimbangkan oleh pemerintah di empat kabupaten wilayah adat Mee:
1. Penyelenggaraan Festival Budaya secara rutin dan meriah.
2. Kebijakan Atribut Adat, yaitu penetapan hari khusus bagi aparatur sipil dan karyawan untuk berkantor menggunakan pakaian adat.
3. Integrasi Kurikulum, berupa penguatan muatan lokal di sekolah-sekolah agar generasi penerus tetap mengenal akar budaya mereka.
”Mari kita, seluruh stakeholder suku Mee, bersatu mendukung upaya ini. Saya mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya MUSPASME kepada Ketua Panitia, Bapak Yunus Kadepa, S.Pd, beserta seluruh jajarannya. Semoga Tuhan memberkati langkah besar ini,” tutup Step Yoeler.






