Kronologi Lengkap Temuan Potongan Karet dalam Pop Ice di Deiyai

Friday, 20 June 2025 - 03:43 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potongan karet plastik yang ditemukan dalam minuman Pop Ice oleh dr. Selvius Ukago di Pasar Waghete, Deiyai, Papua Tengah.

Potongan karet plastik yang ditemukan dalam minuman Pop Ice oleh dr. Selvius Ukago di Pasar Waghete, Deiyai, Papua Tengah.

Deiyai, [SINAR BEMO] — Kasus penemuan benda asing berupa potongan karet dan kaca dalam minuman Pop Ice menggemparkan warga Pasar Waghete, Kabupaten Deiyai. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait keamanan pangan dan mendorong masyarakat meminta perhatian dari produsen dan pemerintah daerah.

Peristiwa ini dialami langsung oleh seorang warga, dr. Selvius Ukago, yang kemudian menyusun kronologi lengkap terkait temuan tersebut. Berikut kronologinya:

Pukul 08.00 WIT – Belanja Pagi di Pasar Waghete

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada Rabu, 19 Juni 2025, sekitar pukul 08.00 WIT, dr. Selvius Ukago bersama anak-anaknya mengunjungi Pasar Waghete untuk berbelanja kebutuhan harian. Karena cuaca pagi itu cukup terik, ia memutuskan untuk membeli minuman dingin sebagai penyegar.

Pukul 10.00 WIT – Pembelian Pop Ice

Sekitar pukul 10.00 WIT, dr. Selvius membeli lima gelas minuman Pop Ice dari salah satu pedagang di area pasar. Minuman tersebut diracik langsung oleh penjual menggunakan serbuk Pop Ice, dicampur dengan es batu, dan diaduk sebelum disajikan dalam gelas plastik.

Beberapa Menit Kemudian – Benda Asing Terdeteksi

Setelah masuk ke dalam mobil, dr. Selvius dan anak-anak mulai menikmati minuman tersebut. Namun, ia merasakan keanehan saat mengunyah bagian dari minumannya. “Awalnya saya kira itu potongan es, tetapi teksturnya kenyal dan tidak mencair,” ungkapnya.

Setelah diperiksa, benda asing tersebut ternyata adalah potongan karet plastik berukuran sekitar 0,3 milimeter. Pemeriksaan lebih lanjut menemukan beberapa potongan lain dalam gelas yang ia pegang, dengan ukuran bervariasi antara 0,1 mm hingga 0,2 mm.

Pemeriksaan Terhadap Minuman Anak

Merasa curiga, dr. Selvius segera meminta anak-anak berhenti minum dan memeriksa gelas mereka. Hasilnya, empat dari lima gelas yang dibeli mengandung potongan karet serupa. Hanya satu gelas yang tampak bersih dari kontaminan.

Pukul 10.30 WIT – Klarifikasi ke Penjual

Ia segera kembali ke lapak penjual untuk melaporkan temuan tersebut. Awalnya, penjual menduga potongan itu berasal dari es batu. Namun setelah ditunjukkan bukti fisik, penjual mengakui bahwa itu bukan es dan tidak mengetahui dari mana asal potongan tersebut.

Pemeriksaan dilakukan terhadap tempat dan alat-alat penyajian di lokasi penjual, namun tidak ditemukan benda mencurigakan yang serupa dengan potongan karet tersebut.

Permintaan Sampel Produk Pop Ice Utuh

Untuk membuktikan dugaan, dr. Selvius meminta tiga bungkus Pop Ice yang masih tersegel dari penjual. Setelah dibuka dan diperiksa langsung di lokasi, ketiga bungkus tersebut juga mengandung potongan karet dalam jumlah bervariasi. Hal ini mengindikasikan bahwa kontaminasi terjadi sebelum produk digunakan oleh penjual.

Menariknya, tanggal kedaluwarsa pada kemasan tersebut menunjukkan bahwa produk masih layak konsumsi hingga dua tahun ke depan, sehingga tidak ada indikasi kerusakan akibat penyimpanan.

Dugaan Kontaminasi di Tingkat Pabrik

Berdasarkan temuan ini, dr. Selvius menyimpulkan bahwa kontaminasi kemungkinan besar terjadi dalam proses produksi atau pengemasan di pabrik. Penjual hanya menyeduh minuman berdasarkan prosedur biasa, tanpa menambahkan bahan lain selain es dan air.

Imbauan kepada Publik dan Pemerintah

Melalui kejadian ini, dr. Selvius menyampaikan beberapa imbauan:

1. Masyarakat diimbau untuk sementara menghentikan konsumsi Pop Ice dalam bentuk apa pun hingga ada hasil investigasi resmi.

2. Pedagang disarankan tidak menjual Pop Ice guna menghindari konflik atau keresahan pembeli.

3. Pemerintah dan dinas terkait, khususnya BPOM dan Dinas Kesehatan, diminta untuk turun tangan melakukan pengawasan, investigasi lapangan, dan pengambilan sampel acak terhadap produk Pop Ice yang beredar di pasar.

Penutup

Temuan ini menyoroti pentingnya pengawasan kualitas produk pangan yang beredar luas, terutama produk minuman yang digemari anak-anak dan dijual bebas di berbagai wilayah, termasuk pelosok Papua. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak produsen Pop Ice.

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Tingkatkan Kebersihan Wilayah, Bupati Deiyai Serahkan Kendaraan Operasional ke DLH
Dinas Perikanan Deiyai Bersiap Tampung Ribuan Bibit Bantuan Provinsi Papua Tengah
Aksi Cepat Kepala Distrik Kapiraya dan DPRK: 75 Warga Korban Konflik Mogodagi Berhasil Dievakuasi ke Timika
​Anggota DPR Papua Tengah Dapil Deiyai Menerima Aspirasi Tapal Batas Deiyai-Mimika
Seruan Damai dan Keadilan dari Pelayanan Perempuan Kingmi Deiyai untuk Kapiraya
Step Y. Edowai: Jangan Hanya Tapal Batas, Cari Dalang di Balik Ketegangan Suku Mee dan Kamoro
KNPI Deiyai Minta Pedagang Jaga Kebersihan Waghete, Dukung Misi “Deiyai Bersih” Bupati Mote
Donatus Mote: Selesaikan Tapal Batas Kapiraya Secara Adat, Bukan Pengiriman Keamanan

Berita Terkait

Monday, 29 December 2025 - 15:01 WIT

Tingkatkan Kebersihan Wilayah, Bupati Deiyai Serahkan Kendaraan Operasional ke DLH

Tuesday, 9 December 2025 - 12:21 WIT

Dinas Perikanan Deiyai Bersiap Tampung Ribuan Bibit Bantuan Provinsi Papua Tengah

Sunday, 7 December 2025 - 04:03 WIT

Aksi Cepat Kepala Distrik Kapiraya dan DPRK: 75 Warga Korban Konflik Mogodagi Berhasil Dievakuasi ke Timika

Wednesday, 3 December 2025 - 22:55 WIT

​Anggota DPR Papua Tengah Dapil Deiyai Menerima Aspirasi Tapal Batas Deiyai-Mimika

Wednesday, 3 December 2025 - 15:06 WIT

Seruan Damai dan Keadilan dari Pelayanan Perempuan Kingmi Deiyai untuk Kapiraya

Berita Terbaru

Bupati Deiyai, Melkianus Mote, ST, saat memberikan amanat dalam Apel Gabungan ASN di halaman Kantor Bupati, Senin (12/1).

Pemerintahan

Bupati Deiyai Tekankan Kedisiplinan ASN dan Pelestarian Budaya Lokal

Monday, 19 Jan 2026 - 07:05 WIT