Wamena [SINAR BEMO] — Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) menunjukkan kepedulian nyata terhadap dunia pendidikan di tengah situasi konflik. Pada Jumat (30/01/2026), YKKMP menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa alat tulis dan sarana belajar bagi anak-anak sekolah berstatus pengungsi di dua sekolah di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Kedua sekolah tersebut adalah SD Yayasan Pendidikan Papua Pegunungan (YPPP) Sapalek di Distrik Napua dan SD Yayasan Yapesli Papua Indonesia di Distrik Wamena Kota. Bantuan ini difokuskan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan anak-anak pengungsi asal Kabupaten Nduga.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rincian Bantuan dan Kondisi Siswa
Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan pihak sekolah sebelumnya, YKKMP mendistribusikan bantuan sesuai kebutuhan spesifik masing-masing sekolah:
1. SD YPPP Sapalek: Menerima 200 buku tulis, 2 papan tulis, serta masing-masing 200 unit penggaris, pulpen, pensil 2B, buku gambar, pensil warna, dan peruncing. Sekolah ini menampung 394 siswa, di mana 300 di antaranya adalah pengungsi.
2. SD Yapesli Indonesia: Menerima 100 buku tulis, 3 papan tulis, serta masing-masing 100 unit penggaris, pulpen, pensil 2B, buku gambar, pensil warna, dan peruncing. Dari total 168 siswa, terdapat 37 anak pengungsi asal Nduga.

Pesan Kemanusiaan Theo Hesegem
Direktur Eksekutif YKKMP, Theo Hesegem, menyerahkan bantuan secara simbolis sembari memberikan motivasi kepada para siswa. Ia menekankan bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mencetak pemimpin masa depan Papua.
”Tetaplah bersekolah dengan giat meski kondisi gedung saat ini tidak memadai. Dengarkan nasihat guru dan rajinlah berdoa. Pendidikan sangat penting bagi masa depan kalian,” ujar Theo di hadapan para siswa.

Desakan kepada Pemerintah
Selain memberikan bantuan, Theo Hesegem melayangkan kritik keras terhadap kondisi fasilitas pendidikan yang jauh dari standar kelayakan. Ia menemukan fakta bahwa para siswa masih belajar di ruangan sempit yang disekat, bahkan beberapa harus beralas rumput dan karpet.
”Saya mendesak Pemerintah Kabupaten Nduga, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, dan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan untuk segera membangun gedung sekolah yang layak. Sangat memprihatinkan melihat anak-anak belajar di lantai dalam ruangan yang sempit, padahal sekolah ini berada di wilayah kota,” tegasnya.
Penyerahan bantuan ini diakhiri dengan apresiasi kepada para guru yang tetap setia mengajar di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.






