Deiyai [SINAR BEMO] — Badan Pengurus Pemuda Klasis Anugerah Tigi Barat, Koordinator Deiyai, mengambil langkah nyata dalam pemberdayaan ekonomi umat melalui penyelenggaraan Seminar dan Pelatihan Peternakan Babi. Kegiatan edukatif ini dipusatkan di Gedung Gereja KINGMI Maranatha Onago pada Jumat (30/01/2026).
Acara diawali dengan ibadah singkat yang dipimpin oleh Otniel Giyai. Dalam khotbahnya, Otniel menekankan pentingnya iman dan kemandirian. “Pertolongan itu datangnya dari Tuhan, maka percayalah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh sembari kita berusaha memperbaiki taraf hidup,” pesannya di hadapan para peserta.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hadir sebagai narasumber utama, drh. Daud Edowai memberikan pemaparan komprehensif mengenai transformasi pola beternak. Ia menyoroti perbedaan mendasar antara cara tradisional orang tua terdahulu dengan tuntutan peternakan modern saat ini. Menurutnya, sistem lepas-liar (pembiaran) sudah tidak efektif lagi dan harus digantikan dengan sistem perkandangan yang intensif.
”Kandang babi jantan dan betina itu berbeda fungsinya. Untuk jantan cukup dengan ukuran 1 \times 1 meter, sedangkan betina membutuhkan ruang 3 \times 3 meter agar memiliki ruang gerak yang cukup, terutama saat masa bunting,” jelas drh. Edowai.

Lebih lanjut, ia membedah faktor utama kematian ternak di daerah dingin seperti Deiyai, yakni suhu ekstrem. Ia menganalogikan kebutuhan babi sama seperti manusia yang membutuhkan selimut dua lapis. Solusi praktis yang ditawarkan adalah menyediakan tumpukan daun kering di dalam kandang sebagai pelindung alami dari udara dingin.
Selain aspek teknis perkandangan, drh. Edowai menekankan bahwa kunci keberhasilan ternak terletak pada manajemen pakan yang baik. Ia juga memperingatkan kebiasaan buruk masyarakat yang memotong babi sakit dan membagikannya ke tetangga. Kebiasaan ini justru menjadi pemicu utama penyebaran wabah penyakit ke ternak lain yang masih sehat.
”Jika babi sakit, langkah pertama adalah memandikannya dengan sabun mandi dan mencampurkan obat ke dalam pakannya,” tambahnya.

Antusiasme terlihat dari perwakilan 16 jemaat yang hadir. Materi ini sekaligus mematahkan stigma di masyarakat yang seringkali terburu-buru memotong babi karena dianggap sudah tidak layak pelihara, padahal masalah utamanya hanya terletak pada pola asuh dan keteraturan pemberian makan.
Sebagai penutup, drh. Daud Edowai melakukan praktik langsung pembuatan pakan (kua) di depan peserta. Ia juga menyatakan kesiapannya untuk melakukan pengobatan massal jika difasilitasi oleh pengurus pemuda di waktu mendatang.






