IMAN KRISTEN DAN TANTANGAN ZAMAN
Selembar Wagadei; Injil yang Datang dan Tinggal
Oleh: Tiborius Adii
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Delapan puluh tujuh tahun bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah sejarah yang hidup, jejak iman yang menjelma menjadi budaya, cara berpikir, cara berdoa, bahkan cara orang Papua memaknai penderitaan dan harapan. Injil Empat Berganda—Yesus sebagai Juru Selamat, Pembaptis dengan Roh Kudus, Tabib Agung, dan Raja yang Akan Datang—telah menyeberangi lautan, gunung, dan lembah Papua bukan sebagai teks mati, melainkan sebagai kabar hidup yang berjumpa dengan tanah, tubuh, dan jiwa orang Papua.
Namun, perayaan HUT ke-87 Injil Empat Berganda tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah misi. Ia harus menjadi cermin kritis: sejauh mana Injil itu masih bernapas dalam realitas Papua hari ini—di tengah modernitas, ketidakadilan struktural, kekerasan, krisis ekologis, dan kegamangan iman generasi muda?
Injil Empat Berganda dan Jiwa Orang Papua
Sejak awal, Injil Empat Berganda menemukan resonansi kuat dalam kosmologi Papua. Orang Papua tidak mengenal pemisahan tajam antara yang sakral dan profan. Tanah adalah ibu, alam adalah saudara, dan kehidupan adalah persekutuan. Dalam konteks ini:
Yesus sebagai Juru Selamat dipahami bukan hanya sebagai penyelamat jiwa setelah mati, tetapi sebagai pembebas dari ketakutan, perang suku, dan keterasingan eksistensial.
Yesus sebagai Tabib Agung berjumpa dengan pengalaman kolektif orang Papua yang hidup dekat dengan luka—luka tubuh, luka sejarah, dan luka sosial.
Yesus sebagai Pembaptis Roh Kudus menyentuh spiritualitas Papua yang kaya akan simbol, tarian, nyanyian, dan pengalaman religius komunal.
Yesus sebagai Raja yang Akan Datang memberi horizon pengharapan bagi umat yang lama hidup dalam penantian keadilan.
Injil tidak datang untuk menghapus identitas Papua, melainkan menyucikan, meneguhkan, dan mentransformasikannya. Di sinilah kekuatan Injil Empat Berganda: ia tidak sekadar mengajar, tetapi menyatu.
Tantangan Zaman: Ketika Iman Berhadapan dengan Modernitas
Delapan dekade lebih kemudian, tantangan iman Kristen di Papua tidak lagi sama. Jika dahulu Injil berhadapan dengan keterpencilan geografis, kini ia berhadapan dengan banjir informasi, budaya instan, dan pragmatisme iman.
Modernitas menghadirkan kemajuan, tetapi juga paradoks:
Gereja tumbuh secara kuantitas, tetapi iman sering menipis secara kualitas.
Liturgi megah dan teknologi ibadah berkembang, tetapi keberpihakan pada yang menderita melemah.
Kekristenan menjadi identitas sosial, namun kehilangan daya profetiknya.
Iman Kristen diuji bukan oleh ateisme, melainkan oleh ketidakpedulian. Injil terancam menjadi rutinitas, bukan lagi kabar yang mengguncang dan membebaskan.
Injil dan Realitas Ketidakadilan Papua
Refleksi Injil Empat Berganda di Papua tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial-politik. Tanah yang dulu menjadi ruang perjumpaan Injil kini menjadi medan konflik kepentingan: tambang, hutan, investasi, dan kekuasaan.
Pertanyaan iman yang mendesak adalah:
1. Di mana Injil ketika tanah adat dirampas?
2. Di mana Tabib Agung ketika tubuh orang Papua dilukai kekerasan?
3. Di mana Raja Damai ketika suara keadilan dibungkam?
Jika Injil Empat Berganda hanya berhenti pada altar dan mimbar, ia kehilangan rohnya. Iman Kristen sejati selalu memiliki dimensi etis dan politis—bukan politisasi gereja, tetapi keberanian moral untuk berdiri bersama yang tertindas.
Gereja Papua: Antara Warisan dan Tanggung Jawab
HUT ke-87 Injil Empat Berganda adalah panggilan untuk pertobatan gerejawi. Gereja Papua mewarisi sejarah iman yang besar, tetapi juga memikul tanggung jawab besar untuk masa depan.
Tantangan gereja hari ini antara lain:
1. Klerikalisme dan elitisme rohani yang menjauhkan gereja dari umat akar rumput.
2. Minimnya kaderisasi teolog dan pemimpin gereja Papua yang kontekstual dan kritis.
3. Ketergantungan pada model teologi impor yang kurang berakar pada realitas lokal.
Gereja dipanggil untuk kembali menjadi rumah pengharapan, bukan sekadar institusi religius. Injil Empat Berganda harus dihidupi dalam pendidikan, advokasi sosial, pembelaan HAM, dan perawatan ciptaan.
Generasi Muda dan Krisis Makna
Salah satu tantangan terbesar zaman ini adalah generasi muda Papua. Banyak anak muda Kristen hidup dalam tarik-menarik antara iman, identitas, dan realitas ekonomi.
Jika Injil hanya diajarkan sebagai dogma tanpa relevansi hidup, generasi muda akan menjauh. Mereka tidak menolak Kristus, tetapi menolak gereja yang tidak mendengar jeritan zaman.
Injil Empat Berganda harus diterjemahkan ke dalam bahasa generasi:
1. Yesus sebagai Juru Selamat dari keputusasaan sosial.
2. Yesus sebagai Tabib bagi trauma kolektif.
3. Roh Kudus sebagai daya kreativitas dan keberanian.
4. Kerajaan Allah sebagai visi keadilan dan perdamaian.
Iman yang Profetik dan Membumi
Refleksi 87 tahun Injil Empat Berganda menuntut iman yang profetik dan membumi. Iman yang berani bertanya, berani mengkritik diri sendiri, dan berani mengambil risiko demi kebenaran.
Injil bukan candu yang meninabobokan penderitaan, melainkan api yang menyala di tengah kegelapan. Injil tidak menjauhkan orang Papua dari dunia, tetapi memampukan mereka mengubahPerdamaian.
Injil yang Terus Berjalan
Injil Empat Berganda telah berjalan bersama orang Papua selama 87 tahun—melalui air mata, nyanyian, salib, dan pengharapan. Tugas kita hari ini bukan hanya merayakan masa lalu, tetapi menghidupi Injil itu di masa kini dan masa depan.
Jika Injil tetap berpihak pada kehidupan, keadilan, dan martabat manusia Papua, maka ia akan terus hidup—bukan sebagai peninggalan sejarah, tetapi sebagai kekuatan transformasi.
Selamat HUT ke-87 Injil Empat Berganda di Tanah Papua.
Kiranya iman Kristen tetap menjadi terang yang tidak padam,
Akar yang tidak tercerabut,
Dan harapan yang tidak dikhianati oleh zaman.semoga ***
Penulis adalah Adii Tiborius/Masyarakat Allah tinggal di Waghete.






